Ibrahim Muhlis Membantah Menghindari Wartawan

Foto Pasar Sentral Takalar

Takalar Media Duta– Polemik terkait penertiban pedagang di Pasar Sentral Takalar memunculkan dua versi cerita yang berbeda antara seorang pejabat pemerintah dan seorang pimpinan media lokal.

 Ibrahim Muhlis, ST, Kepala Bidang Sarana dan Pelaku Distribusi, dituduh menghindari wartawan dengan mengunci pintu ruang kerjanya, sementara dirinya membantah dan menyatakan hanya menjalankan tugas penertiban sesuai aturan.

Dugaan Pejabat Menghindari Wartawan

Insiden ini bermula pada Jumat (14/02), ketika Pimred Realitaupdate24jam, Irwan Hasan Tiro, datang ke kantor Disperindag Takalar untuk mengonfirmasi rencana pemugaran bangunan liar di Pasar Sentral. 


Namun, Ibrahim Muhlis disebut-sebut mengunci ruangannya dan menolak ditemui, bahkan menolak menerima kopi yang dipesankan untuknya. Hal ini memicu spekulasi bahwa pejabat tersebut enggan memberikan informasi kepada media.


Irwan Hasan Tiro mengungkapkan keheranannya terhadap sikap Ibrahim yang dinilainya tidak bersahabat dengan awak media.


"Bagaimana nanti kalau beliau naik jabatan, kalau sekarang saja sulit ditemui dan terkesan arogan? Pejabat yang menutup diri dari wartawan seharusnya dievaluasi," ujarnya.


Irwan juga mendesak Bupati Takalar, H. Muh. Firdaus, untuk menindak pejabat yang bersikap tidak terbuka kepada masyarakat, terutama terkait kebijakan publik seperti penertiban pasar.


Selain itu, Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan Kabupaten Takalar, Nasruddin A, dikabarkan tidak masuk kantor selama tiga hari pasca-HUT Kabupaten Takalar, sehingga tidak ada klarifikasi dari pihak dinas terkait isu ini.


Klarifikasi Ibrahim Muhlis: Ada Kepentingan Pribadi di Balik Tuduhan


Sementara itu, Ibrahim Muhlis memberikan tanggapan melalui Indiwarta.com dan membantah tuduhan bahwa dirinya menghindari wartawan. Menurutnya, kejadian tersebut tidak lebih dari upaya pihak tertentu yang ingin menyudutkannya.


"Saya hanya menjalankan tugas penertiban kios di Pasar Sentral. Salah satu pemilik kios yang menunggak sewa selama tiga tahun kebetulan adalah Irwan Hasan Tiro sendiri," ujarnya.


Ibrahim mengklaim bahwa dirinya sudah berulang kali mencoba menagih tunggakan tersebut, namun hanya mendapat janji tanpa kepastian. Karena itulah, ia memilih untuk tidak menemui Irwan Hasan Tiro guna menghindari perdebatan yang tidak produktif.


"Setiap kali saya meminta kejelasan, yang bersangkutan selalu berkelit. Jadi, kalau ada tuduhan saya menghindari wartawan, itu tidak benar. Saya hanya menghindari konflik yang tidak ada ujungnya," tambahnya.


Ia juga menyayangkan pemberitaan yang menurutnya tidak berimbang, karena dirinya tidak diberikan kesempatan untuk memberikan klarifikasi sebelum berita pertama diterbitkan.

Farid Mamma, SH, MH

 Farid Mamma: Pejabat Tidak Boleh Menyerang Pribadi Wartawan.

Menanggapi polemik ini, pakar hukum dan pemerhati kebijakan publik, Farid Mamma, SH., M.H., menegaskan bahwa pejabat publik harus menghormati kebebasan pers dan tidak boleh menyerang pribadi jurnalis.


"Seorang pejabat negara tidak boleh menjadikan konflik personal sebagai alasan untuk menutup akses informasi publik. Jika ada masalah dengan seorang wartawan secara pribadi, harus diselesaikan secara profesional dan bukan dengan menghindari pertanggungjawaban publik," tegas Farid Mamma.


Ia juga menyoroti bahwa pejabat yang mengelak dari pertanyaan jurnalis menunjukkan kurangnya transparansi dalam tata kelola pemerintahan.


"Jika seorang pejabat merasa pemberitaan tidak berimbang, ada mekanisme hak jawab yang bisa digunakan. Menghindari wartawan atau bahkan mengunci diri di kantor hanya akan memperburuk persepsi publik," tambahnya.


Menurutnya, Ibrahim Muhlis seharusnya berani memberikan klarifikasi langsung kepada media tanpa harus membawa unsur pribadi dalam pekerjaannya sebagai pejabat publik.@mds_tim




Posting Komentar untuk "Ibrahim Muhlis Membantah Menghindari Wartawan"